Rabu, 20 November 2013

ANALISIS PSIKOLOGI DALAM FILM “JAMILA DAN SANG PRESIDEN”




 Oleh Silva Nura
            Alur dalam film Jamila dan Sang Presiden ini dimulai dengan narasi dari Jamila bahwa dia adalah korban perdagangan manusia dengan adegan kehidupan malamnya yang mewah tetapi tidak membahagiakan. Setelah mendengar berita bahwa seorang menteri telah dibunuh oleh Jamila, maka ia menyerahkan diri kepada polisi. Ini mengejutkan laki-laki yang menyukai Jamila, ibrahim namanya. Ibrahim berusaha membebaskan Jamila. Atas perintah presiden, Jamila ditempatkan di suatu lembaga permasyarakatan (LP) di kota Bandung. Di Lembaga Permasyarakatan di Bandung itu, Ria seorang sipir membaca buku harian Jamila dan mengetahui latar belakangnya, ternyata Jamila dijual ibunya kepada muncikari, yang kemudian menjualnya kepada keluarga kaya. Saat tinggal dengan keluarga tersebut, Jamila diperkosa oleh ayah angkat dan kakak angkatnya. Sebagai balasan, Jamila membunuh kakaknya itu lalu melarikan diri. Sementara itu, ibu angkatnya membunuh suaminya atas perilakunya yang biadab. Jamila menjadi pekerja di pasar, tetapi harus melarikan diri ketika mengetahui ada yang hendak memerkosanya. Dia berlindung dalam suatu diskotik kemudian dirazia polisi. Jamila disangka merupakan seorang pekerja seks komersial (PSK) di tempat itu. Setelah dibebaskan, Jamila dibesarkan seorang PSK yang baik hati, bernama Susi yang sebelumnya juga tertangkap dalam razia itu.
Di luar LP sekelompok organisasi massa menuntut agar Jamila dijatuhi hukuman mati. Namun, stats massa itu adalah masa yang di bayar oleh seseorang yang tidak menyukai Jamila. Di dalam LP, seorang penjaga merasa kasihan atas nasib Jamila dan berusaha membantunya. Namun, Jamila mengabaikannya. Beberapa hari kemudian, Jamila divonis dan dijatuhi hukuman mati, yang akan dilaksanakan dalam waktu 36 jam. Ria mengunjungi Jamila di selnya dan menyatakan bahwa dia berniat menghubungi presiden untuk meminta penangguhan eksekusi, namun Jamila pun menolak dan menceritakan pengalamannya mencari adiknya Fatimah di Kalimantan serta bagaimana dia sempat membunuh orang yang menempatkan Fatimah dalam bordil walaupun gagal menemukan adiknya itu.
Ketika Nurdin (seorang mentri) bertemu dengan jamila di hotel, Nurdin mengancam Jamila dengan pistol, untuk membela diri Jamila mengambil pistol itu dan membunuh Nurdin. Setelah kilas balik itu selesai, terlihat Jamila berjalan menuju tempat eksekusinya.
Dalam tayangan film ini sedikit berbeda dengan judulnya “Jamilah dan Sang Presiden” karena dalam tayanganya sosok presiden tidak ditampilkan secara jelas, namun hanya menampilkan istana merdekanya saja sebagai simbol dari presiden itu sendiri.
Dari tayangan yang beralur seperti diatas saya dapat menganalisis mengenai psikologi yang tergambar dalam tayangan film “Jamila dan Sang presiden”, yaitu:
1.      Tingkah laku nonverbal yang digunakan oleh Nurdin melalui kontak mata yang ditujukan kepada Jamila bahwa Nurdin menyukainya dimana dalam hal itu terjadi komunikasi nonverbal.
2.      Pada umumnya setiap orang menginginkan harga diri yang positif, karena dengan harga diri yang positif membuat orang merasa nyaman dan membuat orang dapat mengatasi kecemasan, kesepian dan penolakan sosial. Harga diri adalah penilaian atau evaluasi secara positif atau negatif terhadap diri(Deaux, Dane, & Wringhtsman, 1992). Namun, berbeda halnya dengan Jamila, banyak orang yang menganggap Jamila dengan penilaian yang negatif terhadap Jamila sebagai PSK dan pembunuh, padahal Jamila adalah korban dari perdagangan manusia.
3.      Hubungan interpersonal adalah hubungan yang terdiri atas dua orang atau lebih yang memiliki ketergantungan satu sama lain dan menggunakan pola interaksi yang koonsisten. Hal itu terjadi kepada Jamila dan Nurdin, dimana ketika Nurdin menjadi salah satu tamu Jamila, namun Nurdin tak mau menyentuh jamila sedikit pun karena tertarik oleh fisik yang merupakan faktor ekternal dari ketertarikan interpersonal pertamanya, yaitu kecantikannya. Nurdin pun mulai menyukai Jamila bahkan hendak berencana menikahi Jamila. Akan tetapi, Nurdin malah meninggalkan Jamila.
4.      Sikap dapat mempengaruhi perilaku, kuat dan lemahnya sikap bergantung pada ekstremitas dan pengalaman pribadi seseorang (Petty & Krosnick, 1995). Konsistensi hubungan sikap dan perilaku dipengaruhi oleh: 1) Kuat atau lemahnya sikap yang dimiliki seseorang, 2) Faktor situasional yang dapat menghambat seseorang untuk berperilaku sesuai dengan sikap yang dimilikinya. Kerasnya hidup yang telah dilalui Jamila membuat dia bersikap yang ekstrem dengan membunuh kakak angkatnya dan juga Nurdin yang telah menghianatinya.
5.      Seringkali perilku itu dipengaruhi oleh permintaan langsung orang lain. Hal tersebut merupakan suatu bentuk pengaruh sosial  yang disebut dengan pemenuhan keinginan atau complience. Dimana hal itu dilatar belakangi oleh sikap ayah Jamila yang memiliki otoritas dan mau tak mau saat itu Jamila yang masih belia menjadi korban perdaganagn manusia yang dilakukan oleh ayahnya sendiri sehingga menimbulkan obedience atau kepatuhan kepada ayahnya yang memiliki sikap otoritas.
6.      Empati merupakan respons yang kompleks, meliputi komponen afektif dan kognitif. Sosok Ibrahim yang menyukai Jamila telah bersikap empati terhadap Jamila dengan membantu membebaskan Jamila dari jeratan tahanan.
Dari tayangan film “Jamila dan Sang Presiden” saya hanya dapat menganalisis hal-hal atau adegan yang tergambar dalam film itu dan hubungannya dengan Ilmu Psikologi seperti yang telah dipaparkan diatas. Sebuah film yang disutradarai oleh Ratna Sarumpet, seorang aktivis hak perempuan, Ratna menulis cerita ini didorong pada tahun 2005, setelah UNICEF mendekati dan memintanya agar dia membuat survei atas perdagangan anak di Asia Tenggara dan menyadarkan masyarakat akan masalah tersebut. Semoga dengan adanya film “Jamila dan Sang Presiden ini dapat membukakan mata hati masyarakat banyak bahwa PSK itu bukanlah pekerjaan yang diharapkan, miskin bukanlah keinginan, dan pembunuh bukanlah profesi.
           

Tidak ada komentar: